Kegalauan
Kini ia datang lagi
Setelah berpuluh-puluh tahun tak pernah mampir ke dermaga hatiku
Kini ia telah berubah wujud, tak lagi seperti dahulu
Tak lagi tentang segala ketidakpastian
Kini ia mewujud dalam rupa kegalauan
Namun, dia tetap dia yang dulu
Kegalauan…….
Dahulu ia menjadi penghias tidur masa kanak-kanakku
Kini ia menari dalam dunia dewasaku
Kucari seribu sebab, tak pernah berakhir
Namun terkadang aku rindu dgn rasa perih itu
Karena ia telah membawaku ke sebuah rumah tak berpintu
Kegalauan yang membawa rasa perih
Kegalauan pula yang menghantarku menikmati kedekatan denganNya
Ingin aku berteriak ke lubang telingaku
Inilah cara Dia mendekatkanmu kembali kepadaNya
Hijab-hijab keduniawian yang fana
masih melambai antara aku dan Dia
Hanya satu yang aku rasa
Menikmati pedihnya sebuah kegalauan
Menikmati bentuk cintaNya yang kurasakan aneh
Tetapi taklah aneh bagi jiwa yang berserah diri.
Adalah kusadari
Puncak sejuta kegalauan
Akan terhapus dengan sebuah pertemuan
Allahu rabbi, betapa indahnya sebuah pertemuan
Maka dengarlah ketika Ia berbisik:
Demi waktu matahari sepenggalahan naik,
dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (Adh-Dhuha)
Griya Bandung Indah, 19 April 2010 ba’da Isya
